Cinta itu..
Membiarkan seseorang memegang pisau buat nyakitin kita,
tapi sekaligus pemegang obat untuk setiap luka kita..
Konyol..
Tapi itulah yang aku rasakan..
Aneh..
Tapi itulah kenyataannya.
Akhir-akhir ini, ada yang mengganggu pikiranku. Sejak pertemuanku dengan “dia” beberapa hari lalu, perasaanku semakin ga menentu. Aku terus teringat wajahnya. Dadaku berdebar keras ketika mengingat setiap pembicaraan yang terjadi antara kami. Sakit perut ketika dia ga jauh dariku. Dan aku sangat mengharapkan BBM darinya. Menunggu walaupun hanya penantian belaka. Dia. Ya, dia. Seorang laki-laki berkacamata dan baik. Entah sejak kapan, aku diam-diam sering memperhatikannya. Orang bilang, ini cinta. Cinta? Hanya dalam beberapa hari saja bisa jatuh cinta? Aneh. Sepertinya aku memang tidak pernah mengenal apa itu cinta.
Hari-hariku berjalan normal seperti biasa. Tidak ada yang menarik. Minggu lalu aku baru putus dengan pacarku setelah 9 bulan kita bersama. Alesan putus? Gampang saja, aku udah ngerasa ga cocok, bahkan dari bulan-bulan sebelumnya. Dia tidak bisa menghargai seorang perempuan. Apa yang harus dipertahankan dari itu. Dia bilang itu cinta. Rasanya aneh. Sepertinya aku memang sudah malas dengan cinta. Cinta cuma membawa sakit hati dan penderitaan. Menyedihkan..
Liburan kenaikan kelas kali ini sangat menyedihkan. Selain putus, aku juga tertarik dengan laki-laki yang tidak tertarik denganku. Tapi kenapa rasanya begitu berat melepaskan dia ya..? orang yang belum lama kutemui itu. Perasaan ini terasa begitu nyata. Begitu juga sakitnya. Aku bahkan tidak merasa sedih ketika aku berpisah dengan pacarku. Aku justru sedih karena “dia” tidak begitu menanggapi chat yang dengan penuh keberanian kucoba memulainya duluan. Padahal selama pertemuan kami beberapa hari ini, dia terlihat menunjukkan tanda positif. Tuh kan, cinta memang aneh.
Temanku bilang,”lu tuh ada harapan tau sama dia. Coba aja terus!”. Padahal kenyataannya, semakin aku mencobanya, semakin aku sendiri yang tersakiti. Hanya aku yang berjuang seorang diri. Tuhan.. hidup itu memang tidak adil ya..
***
Seminggu berlalu. Aku masih menyukai laki-laki yang sama. Seorang yang memberiku harapan palsu. Dia. Ya, orang yang sama dengan waktu itu. Orang yang membuatku berdebar setelah sekian lama aku tidak lagi merasakan berdebar keras seakan mau meledak. Orang yang membuatku tersenyum dalam penantianku. Setiap lembar foto yang menunjukkan kebersamaan kita, semuanya hanya menjadi kenangan manis yang menyayat hati.
Semakin aku mencoba, semakin kamu menjauh. Aku tidak mengerti lagi. Apa yang kamu inginkan? Bahkan Tuhan pun tidak ingin aku tahu apa rencana-Nya terhadapku sehingga aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Yang bisa kulakukan, hanya menanti. Menanti suatu jawaban dari ketidakpastian. Mungkin benar kata orang. Aku sungguh telah jatuh cinta. Karena aku tidak bisa merelakannya. Karena aku membiarkannya memegang kendali atas perasaanku. Memegang pisau untuk melukaiku namun terus berharap dia tidak akan melukaiku dan membantuku menyembuhkan luka-lukaku. Karena cinta, membuatku menyukai luka yang disebabkan olehnya.
No comments:
Post a Comment